Menjaga Nafas Alam di Lereng Ciremai, DPRD Kuningan Tinjau Arboretum Arunika
- account_circle Admin
- calendar_month Ming, 21 Des 2025
- comment 0 komentar

Ketua Dprd Ikut Penanaman Puhon
KUNINGAN – Di bawah teduh pepohonan lereng Ciremai, kepedulian terhadap alam kembali diuji. DPRD Kabupaten Kuningan menjejakkan kaki di Arboretum Arunika, Desa Cisantana, Jumat (19/12), untuk memastikan bahwa denyut pembangunan tidak menggerus denyut kehidupan lingkungan.

Dprd Kuningan Saat Melakukan Kunjungan Di lahan Arunika
Kunjungan lapangan ini menjadi jawaban atas beragam polemik dan opini publik yang mencuat terkait isu lingkungan di kawasan wisata Arunika. Dipimpin langsung Ketua DPRD Kuningan, Nuzul Rachdy, rombongan yang terdiri dari unsur pimpinan DPRD dan seluruh pimpinan komisi—Komisi I hingga Komisi IV—memilih melihat realitas secara langsung, bukan sekadar bersandar pada narasi di atas kertas.
Tak sekadar meninjau, rombongan DPRD turut menanam pohon di kawasan arboretum. Sebuah simbol sederhana namun sarat makna: bahwa menjaga alam bukan hanya soal regulasi, tetapi juga aksi nyata yang menyentuh tanah.
Ketua DPRD Kuningan, Nuzul Rachdy, menegaskan bahwa langkah ini diambil agar DPRD memiliki pandangan yang utuh dan objektif sebelum menentukan sikap.
“Kami merespons berbagai opini dan pemberitaan yang berkembang. Supaya tidak keliru dalam mengambil keputusan, kami memilih turun langsung ke lapangan. Hingga saat ini, DPRD belum menarik kesimpulan, terutama terkait isu lingkungan,” ujarnya.
Dari peninjauan awal, DPRD mencatat adanya ikhtiar pelestarian yang telah dilakukan pengelola Arboretum Arunika, salah satunya dengan menyiapkan ribuan bibit pohon untuk ditanam di kawasan tersebut.
“Ini adalah langkah awal yang patut diapresiasi. Namun tentu saja, penilaian tidak berhenti di sini. DPRD akan melakukan kajian lanjutan dan telah meminta dokumen feasibility study atau studi kelayakan untuk dikaji secara komprehensif,” jelas Nuzul.
Perhatian juga diarahkan pada pembangunan akses jalan di dalam kawasan. Nuzul mengingatkan agar pembangunan infrastruktur tidak mengorbankan fungsi ekologis, terutama daya resap air yang menjadi penyangga kehidupan di wilayah tersebut.
“Pembangunan akses jalan memang dibutuhkan untuk mobilisasi tanaman, namun prinsip ramah lingkungan harus menjadi pijakan. Misalnya dengan penggunaan paving block agar air hujan tetap terserap ke tanah. Infrastruktur yang sudah ada pun harus dirawat dengan baik,” tegasnya.
Sementara itu, pengelola Arboretum Arunika, Maryoto, menjelaskan bahwa kawasan ini dikembangkan sebagai ruang hidup bagi kekayaan flora khas Kabupaten Kuningan, baik dari dalam maupun sekitar kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai.
“Kami menanam berbagai tumbuhan lokal sebagai tanaman pionir. Harapannya, Arboretum Arunika menjadi pusat koleksi tumbuhan khas Kuningan. Beberapa tanaman bahkan memiliki keterikatan historis dengan nama desa-desa di Kuningan, seperti Limus, Aren, Turi, Picung, dan lainnya,” ungkap Maryoto.
Pada kesempatan tersebut, DPRD dan pengelola kawasan juga menanam bibit pohon gaharu—tanaman yang tidak hanya bernilai ekologis, tetapi juga memiliki potensi ekonomi tinggi bagi masyarakat.
“Gaharu memiliki nilai strategis. Kami ingin Arboretum Arunika menjalankan lima fungsi utama: sebagai kawasan konservasi dan penyangga air, pusat penelitian, pusat pendidikan bagi pelajar dan mahasiswa, kawasan wisata berbasis konservasi, serta penyedia jasa lingkungan,” jelasnya.
Maryoto menegaskan bahwa pihaknya terbuka terhadap kritik dan masukan dari DPRD Kabupaten Kuningan. Baginya, perhatian legislatif justru menjadi penguat arah konservasi yang tengah dibangun.
“Kami mengapresiasi setiap masukan. Semua itu sejalan dengan semangat kami untuk menjaga keseimbangan antara manusia, pembangunan, dan alam,” pungkasnya.
- Penulis: Admin







