Silaturahmi BTNGC Bersama Media, Tegaskan Pentingnya Kolaborasi dalam Pengelolaan Kawasan Konservasi
- account_circle sep
- calendar_month Selasa, 23 Des 2025
- comment 0 komentar
- print Cetak

Kepala Btngc Bersama Media Usai Silaturahmi
KUNINGAN jelajahtvnews.com,- Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (BTNGC) menggelar silaturahmi dan dialog terbuka bersama insan media Kabupaten Kuningan, Selasa (23/12/2025). Kegiatan ini menjadi ruang strategis untuk memperkuat sinergi sekaligus memperjelas berbagai isu seputar pengelolaan kawasan konservasi, mulai dari zonasi lahan, fungsi kawasan hutan, hingga regulasi pemerintah dan undang-undang yang mengaturnya.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!
Kepala Btngc Saat Dialog Dengan Media
Silaturahmi berlangsung dalam suasana hangat dan dialogis, dipimpin langsung oleh Kepala Balai TNGC, Toni Anwar, S.Hut., MT, didampingi jajaran pejabat struktural di antaranya KSBTU, Arifin Bayu Aji, SP, Kasi I Kuningan Eko Kosasih, S.Hut., MIL, serta jajaran staf lainnya. Media diberi ruang luas untuk bertanya dan menyampaikan pandangan terkait pengelolaan kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai.
Dalam pemaparannya, Toni Anwar menegaskan pentingnya kolaborasi multipihak dalam tata kelola kawasan konservasi. Ia menyebut pendekatan pentahelix hingga heksahelix, di mana media memiliki peran strategis sebagai tulang punggung komunikasi publik.
“Pengelolaan kawasan taman nasional tidak bisa berjalan sendiri. Media adalah mitra penting agar tata kelola, good governance, dan informasi kepada publik berjalan dengan baik. Kadang kemacetan terjadi bukan karena niat, tapi karena komunikasi yang belum optimal,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan permohonan maaf apabila selama ini terdapat keterlambatan informasi kepada wartawan, seraya menegaskan komitmen BTNGC untuk membuka akses informasi, termasuk kegiatan positif seperti pemulihan ekosistem, patroli kawasan, hingga pelepasan satwa dilindungi seperti elang yang ke depan akan disertai rilis resmi sebagai bahan pemberitaan.
Lebih jauh, Kepala Balai TNGC menjelaskan bahwa pengelolaan kawasan konservasi berlandaskan undang-undang dengan empat pilar utama, yakni perlindungan dan pengamanan kawasan, pengawetan keanekaragaman hayati, serta pemanfaatan secara terbatas dan berizin, termasuk wisata alam dan pemanfaatan air.
Ia menekankan bahwa setiap kebijakan pemanfaatan kawasan harus melalui kajian menyeluruh, tidak hanya aspek teknis, tetapi juga sosial, ekonomi, dan politik, dengan pendekatan sosial sebagai faktor dominan di wilayah Gunung Ciremai.
“Konservasi bukan sekadar melarang atau membolehkan, tapi mengelola. Dari patroli batas kawasan, pencegahan kebakaran, pendataan flora-fauna, hingga penyelesaian konflik sosial, semua adalah bagian dari pengawetan,” jelasnya.
Sejak 2024 hingga 2025, BTNGC disebut telah melakukan berbagai upaya nyata untuk mengarahkan kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai menuju pengelolaan yang lebih berkelanjutan. Perubahan pola pemanfaatan kawasan juga terus dilakukan seiring transformasi mata pencaharian masyarakat yang sebelumnya bergantung pada penggarapan lahan.
Melalui silaturahmi ini, BTNGC berharap terbangun hubungan yang lebih kuat dan saling percaya dengan media, sehingga setiap dinamika, tantangan, dan capaian dalam pengelolaan kawasan konservasi dapat disampaikan secara utuh, berimbang, dan edukatif kepada masyarakat luas.
- Penulis: sep
