Putu Seuweu Siwi Siliwangi: Makna Keturunan, Amanat, dan Jati Diri Sunda
- account_circle Admin
- calendar_month Sabtu, 17 Jan 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ketua Bhuwana Uga Padjadjaran Abah Haidir
KUNINGAN – Ungkapan “Putu Seuweu Siwi Siliwangi” kembali mengemuka dalam berbagai forum adat, budaya, dan kegiatan pelestarian kearifan lokal di Tatar Sunda. Kalimat yang kerap diucapkan dalam ritual, pidato adat, hingga narasi sejarah ini bukan sekadar rangkaian kata, melainkan simbol identitas dan amanat leluhur Sunda.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Menurut Ketua Padepokan Bhuwana Uga Padjadjaran, yang Akrab Di sapa Abah Hadir, menyampaikan,
Secara etimologis, putu berarti cucu atau keturunan, seuweu merujuk pada anak-cucu atau generasi penerus, sementara siwi bermakna anak atau pewaris. Adapun Siliwangi adalah sosok Prabu Siliwangi, raja besar Kerajaan Sunda Pajajaran yang dikenal sebagai lambang kebijaksanaan, keadilan, dan kejayaan peradaban Sunda.
Dengan demikian, “Putu Seuweu Siwi Siliwangi” dimaknai sebagai keturunan atau pewaris nilai-nilai Prabu Siliwangi. Makna ini tidak selalu menunjuk pada hubungan darah semata, tetapi lebih luas sebagai ikatan kultural dan spiritual bagi masyarakat Sunda yang menjunjung tinggi adat, sejarah, serta harmoni dengan alam. ujarnya.
Namun disisi lain, Para budayawan menegaskan bahwa ungkapan tersebut mengandung pesan moral: generasi masa kini dipanggil untuk meneruskan laku hidup Siliwangi—menjaga bumi, merawat hutan dan gunung, memelihara sumber air, serta menjunjung keadilan sosial. Dalam konteks kekinian, pesan ini relevan dengan upaya pelestarian lingkungan dan penguatan identitas budaya di tengah arus modernisasi.
Dengan terus dihidupkannya ungkapan Putu Seuweu Siwi Siliwangi, masyarakat Sunda diingatkan bahwa jati diri bukan hanya diwariskan melalui darah, tetapi juga melalui nilai, sikap, dan tanggung jawab terhadap tanah leluhur dan generasi mendatang.
- Penulis: Admin