Drone Diterapkan untuk Gerdal OPT Padi di Windujanten, Diskatan Kuningan Tekan Biaya dan Percepat Penanganan
- account_circle Admin
- calendar_month 14 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Dron Pertanian
KUNINGAN — Brigade Proteksi Tanaman Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Diskatan) Kabupaten Kuningan terus berinovasi dalam pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). Salah satunya melalui penerapan teknologi drone pada kegiatan Gerakan Pengendalian (Gerdal) OPT padi di Desa Windujanten, Kecamatan Kadugede, Selasa (3/2/2026).
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Penggunaan drone ini menjadi langkah strategis untuk meningkatkan efektivitas, efisiensi, dan kecepatan penanganan serangan OPT di lapangan, khususnya pada hamparan sawah yang luas. Pada kegiatan tersebut, Gerdal OPT menyasar serangan Bacterial Leaf Blight (BLB) atau Kresek pada areal seluas 10 hektare milik Kelompok Tani Sri Dewi 3.
Kegiatan dilaksanakan oleh Brigade Proteksi Tanaman Diskatan Kabupaten Kuningan bersama Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT), serta dipantau langsung oleh Kepala Diskatan Kuningan, Dr. Wahyu Hidayah, M.Si.
Menurut Wahyu, pemanfaatan drone memberikan keuntungan signifikan, terutama dari sisi pembiayaan dan hasil semprot yang lebih merata. Biaya penyemprotan menggunakan drone hanya sekitar Rp250.000 per hektare, jauh lebih rendah dibanding metode manual yang berkisar antara Rp350.000 hingga Rp700.000 per hektare, tergantung kondisi lahan dan tenaga kerja.
Dengan drone, penyemprotan menjadi lebih cepat, presisi, dan hemat biaya. Ini sangat efektif untuk penanganan OPT yang membutuhkan respon cepat agar tidak meluas, ujar Wahyu.
Selain meninjau pelaksanaan teknis Gerdal, Wahyu juga berdialog langsung dengan para petani untuk memperkuat pemahaman tentang Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Ia menekankan bahwa pengendalian OPT tidak semata mengandalkan pestisida, melainkan harus diawali dengan pengamatan rutin, pola tanam yang tepat, serta penggunaan pestisida sesuai rekomendasi teknis.
PHT adalah kunci keberlanjutan pertanian. Penggunaan pestisida harus bijak agar tidak menimbulkan resistensi OPT dan tetap menjaga keseimbangan ekosistem, tegasnya.
Pada hari yang sama, Diskatan Kabupaten Kuningan juga melaksanakan empat kegiatan Gerdal OPT lainnya secara paralel di beberapa wilayah, sebagai bentuk respons cepat terhadap laporan petani, yakni:
Gerdal OPT Padi Wereng Batang Cokelat (WBC) seluas 10 hektare di Poktan Muda Mandiri, Desa Bangunjaya, Kecamatan Subang.
Gerdal OPT Padi Tikus seluas 10 hektare di Poktan Mulya Tani, Desa Cikubangmulya, Kecamatan Ciawigebang.
Gerdal OPT Padi BLB/Blas seluas 5 hektare di Poktan Tani Mukti, Desa Babakanmulya, Kecamatan Cigugur.
Gerdal OPT Padi BLB seluas 10 hektare di Poktan Mekar Saluyu, Desa Bungur Beres, Kecamatan Cilebak.
Wahyu menegaskan, seluruh kegiatan tersebut merupakan bagian dari pendekatan spesifik lokasi dan spesifik organisme, guna menjaga produktivitas padi dan mencegah penurunan hasil panen.
Setiap laporan petani harus ditindaklanjuti secara cepat dan terukur. Pengendalian OPT tidak bisa ditunda karena berdampak langsung pada produksi, pungkasnya.
Diskatan Kuningan memastikan pemantauan lanjutan pascagerdal akan terus dilakukan oleh POPT di lapangan untuk mengevaluasi efektivitas pengendalian serta mengantisipasi serangan berulang. Langkah ini menjadi komitmen pemerintah daerah dalam menjaga produksi padi dan memperkuat ketahanan pangan Kabupaten Kuningan.
- Penulis: Admin