Sadamantra MAPAG RAHAYU: Hiji Doa, Hiji Rasa, Hiji Kasalametan, Harmoni Budaya dan Spiritualitas di Tanah Leluhur
- account_circle sep
- calendar_month Jumat, 13 Feb 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Para Tokoh Sebelum Melakukan Doa Bersama
Kuningan – Suasana khidmat dan penuh makna menyelimuti Situs Balong Benda, Desa Sadamantra, Kecamatan Jalaksana, Kamis (12/2) malam. Dalam balutan tradisi dan spiritualitas, pagelaran budaya bertajuk “Sadamantra MAPAG RAHAYU – Hiji Doa, Hiji Rasa, Hiji Kasalametan” digelar atas prakarsa Padepokan Bhuwana Uga Padjadjaran.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!
Abah Anom Memimpin Tawasuln Dan Doa Bersama
Acara yang dimulai pukul 20.00 WIB tersebut menjadi ruang pertemuan antara doa, ritual adat, serta kesenian tradisional Sunda. Kidung Buhun dan alunan karinding dilantunkan dalam rangkaian upacara sakral, menguatkan nilai-nilai leluhur yang diwariskan turun-temurun.
Hadir dalam kegiatan tersebut Sesepuh Bhuwana Uga Padjadjaran, Abah Saka, Abah Anom, tokoh pengusaha sekaligus tokoh masyarakat H. Mulyadi beserta rombongan, Kepala Desa Sadamantra M. Dimyati bersama jajaran perangkat desa, serta keluarga besar padepokan dan para undangan lainnya.
Sementara itu, Ketua Umum Padepokan Bhuwana Uga Padjadjaran, MARSDA TNI (Purn.) Eding Sungkana, S.A.B., M.Tr.Han (Raden Pradja Jaya Nagara), menyampaikan permohonan maaf atas ketidakhadirannya karena tengah melaksanakan tugas di Jakarta. Meski demikian, dukungan dan doa restu tetap disampaikan untuk kelancaran dan keberkahan acara.
Pagelaran ini tidak sekadar seremoni budaya. Kidung Buhun dan karinding yang ditampilkan menjadi simbol identitas budaya Sunda yang terus dirawat melalui komunitas seni dan pertunjukan tradisional. Di tengah arus modernisasi, generasi muda mulai dilibatkan dalam berbagai pentas budaya, festival daerah, hingga konten kreatif di media sosial sebagai bentuk pelestarian yang adaptif.
Karinding, alat musik tradisional khas Sunda, bukan hanya romantisme masa lalu. Dentingnya merepresentasikan ketenangan, kesederhanaan, serta harmoni manusia dengan alam. Dalam kehidupan modern yang serba cepat, bunyinya seakan menjadi pengingat untuk kembali menyatu dengan akar budaya dan nilai-nilai leluhur.

Karinding Dan Kidung Padjajaran
Kepala Desa Sadamantra, M. Dimyati, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada panitia serta keluarga besar Padepokan Bhuwana Uga Padjadjaran atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menegaskan bahwa Desa Sadamantra memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata religi dan budaya, didukung kekayaan sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat.
“Ke depan tentu dibutuhkan kolaborasi dengan berbagai pihak untuk meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PADes) Sadamantra melalui pengembangan potensi wisata dan budaya,” ujarnya.
Senada dengan itu, tokoh pengusaha H. Mulyadi mengungkapkan kebanggaannya atas terselenggaranya acara sakral tersebut. Menurutnya, ritual adat seperti Mapag Rahayu menjadi momentum untuk meruwat, merawat, sekaligus menjaga alam demi generasi mendatang.
“Ini pengingat bagi kita semua bahwa manusia dan alam hidup berdampingan. Kita harus menjaga keseimbangan agar keberkahan tetap menyertai kehidupan,” ungkapnya.
Melalui upaya pelestarian yang konsisten dan kolaboratif, Desa Sadamantra dan Kabupaten Kuningan membuktikan bahwa tradisi tidak harus kalah oleh zaman. Justru dari akar budaya itulah, jati diri dan kekuatan spiritual masyarakat terus tumbuh, menjaga ruh Sunda agar tetap hidup dari generasi ke generasi.
- Penulis: sep
