Tugu Angklung sang legenda yang menjadi simbol kebanggan kuningan
- account_circle Admin
- calendar_month 1 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Dading Fajarudin
Dari rahim Kuningan , menyapa Dunia.”
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!jelajahtvnews.com,- Dari kaki Gunung Ciremai, sebuah mahakarya lahir hasil dari gagasan Pimpinan Daerah Kabupaten Kuningan, Dr. H.Dian Rachmat Yanuar MSi.
Ikon Angklung itu, Bukan sekadar monumen, melainkan simbol budaya yang menjelma menjadi kebanggaan baru masyarakat Kabupaten Kuningan dan di bangun bukan anggaran dari pemerintah.
Berlokasi di persimpangan Jalan Cipari–Cisantana, tepatnya di kawasan pertigaan Cipari berdiri kokoh sebuah karya seni angklung berukuran monumental.
Menurut Dading Fajarudin, S.Si, M.A.P (Kepala Bidang Ekonomi Kreatif dan Industri Pariwisata ) yang juga merupakan konseptor/desainer dari maha karya ini. Tugu angklung ini bukan hanya penghias ruang kota, tetapi juga representasi doa, harapan, dan penghormatan terhadap warisan leluhur yang telah lama hidup dalam denyut nadi masyarakat Sunda.
Struktur angklung raksasa tersebut dirancang dengan bentuk harmonis dan sarat makna. Setiap lekuk dan detailnya menggambarkan semangat pelestarian budaya, sekaligus menjadi penanda identitas daerah.
Sebagai putra daerah merasa bangga di berikan kepercayaan oleh bapak bupati kuningan untuk mewujudkan mimpi tersebut.
Kehadiran tugu angklung di ruang publik ini diharapkan mampu mengingatkan generasi muda bahwa seni tradisi bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan kekuatan masa depan.
Lebih dari itu, pembangunan ikon angklung ini menjadi bagian dari ikhtiar besar menjadikan Kuningan sebagai “Kabupaten Angklung”. Sebuah gagasan yang berangkat dari keyakinan bahwa potensi lokal harus dirawat dan dikembangkan dari tanahnya sendiri.
Angklung sebagai alat musik bambu diatonis telah lama dikenal sebagai warisan budaya Nusantara. Dari getaran bambu yang sederhana, lahir harmoni yang menyatukan. Kini, melalui karya monumental di Cipari-cisantana, harmoni itu tidak hanya terdengar, tetapi juga terlihat dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas menuju kuningan Melesat.
Pemerintah daerah dan para pegiat seni berharap, keberadaan ikon ini mampu menjadi daya tarik wisata budaya sekaligus ruang edukasi. Sebab di setiap getar angklung, tersimpan jati diri. Dan di setiap harmoni yang menggema, terpatri suara kebanggaan Kuningan yang tak ingin berhenti bergema.
Terakhir saya menyampaikan harapannya tugu angklung ini bisa dterus di jaga dan di lestarikan, terus membumi bahwa angkulng lahir dari rahim kuningan,, ucapan terima kasih kepada semua pihak yang membantu dalam proses pengerjaan tugu angklung sehungga dalam waktu 17 hari tugu angklung ini bisa berdiri megah, dan ini memberikan tantangan tersendiri untuk mewujdukan mimpi itu, dan semoga angklung bisa dimainkan di setiap pelosok desa , bukan sekedar simbol tapi harus menjadi bahasa universal.
” KITA MENJAGA AKAR AGAR DAHAN KITA MAMPU MENGGAPAI LANGIT “..
- Penulis: Admin
