Lautan Takbir di Kuningan, Idulfitri 1447 H Mengalirkan Syukur dan Harapan
- account_circle Admin
- calendar_month 21 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Bupati Dmelaksanakan Solat Id Di Mesjid Syarul
jelajahtvnews.com,- Pagi itu, langit Kuningan seperti merunduk khidmat. Cahaya mentari menetes lembut di pelataran Masjid Syiarul Islam, menyapa ribuan langkah yang berjejal hingga ke jalanan. Takbir menggema, berlapis-lapis seperti doa yang terbang ke langit, mengantarkan rindu yang tuntas pada kemenangan.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!
Lantunan Takbir Jelang Solat Idulfitri
Di hamparan sajadah yang menyatu dengan bumi, warga larut dalam sujud panjang—sebuah perjalanan pulang menuju fitrah. Idulfitri 1447 Hijriah bukan sekadar perayaan, melainkan pelukan hangat antara manusia dan Tuhannya, antara sesama yang kembali merajut maaf.
Di tengah samudera jamaah, Bupati Kuningan, Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si hadir, menyatu tanpa sekat. Bersama Wakil Bupati, Sekda, dan jajaran Forkopimda, mereka berdiri dalam satu saf—menegaskan bahwa di hadapan Ilahi, semua adalah hamba yang sama.
Lantunan imam, Ust. Solahudin SQ, mengalir bening, menuntun hati-hati yang bersih. Sementara khutbah KH. Jajang Aisyul Muzaki menjelma cahaya, mengingatkan bahwa kemenangan sejati adalah saat manusia mampu memaafkan dan memperbaiki diri.
Dalam sambutannya, Bupati Dian menuturkan dengan nada yang mengalir hangat—tentang arti pulang, tentang makna kebersamaan.
Ia mengajak seluruh warga menjadikan hari fitri sebagai titik awal, bukan akhir. Sebuah awal untuk saling menguatkan, menautkan kembali rasa peduli yang mungkin sempat terlepas.
“Sejauh apa pun langkah kita, Kuningan akan selalu menjadi rumah,” ucapnya, seperti doa yang mengendap di dada para perantau yang kembali.

Usai Melaksanakan Solat Bersama
Di balik suasana haru itu, terselip kabar-kabar baik yang menjadi penopang harapan. Angka kemiskinan yang perlahan surut, pengangguran yang kian menurun, hingga pertumbuhan ekonomi yang menguat—semuanya seperti benih-benih yang tumbuh dari kerja keras dan kebersamaan.
Namun, di balik capaian, terselip kerendahan hati. Permohonan maaf atas yang belum sempurna, serta janji untuk terus berbenah. Sebuah tekad yang dirangkum dalam semangat babakti ka lemah cai—mengabdi pada tanah kelahiran dengan sepenuh cinta.
Idulfitri di Kuningan bukan hanya gema takbir, tetapi juga gema harapan. Tentang masa depan yang dibangun bersama, tentang ikatan hati yang tak lekang oleh waktu.
Dan pagi itu, di antara doa-doa yang melangit, Kuningan kembali dilahirkan—dalam damai, dalam syukur, dalam keberkahan.
- Penulis: Admin













