“Di Balik Bau yang Kita Hindari: Tangis Sunyi Pejuang Sampah Kuningan”
- account_circle Admin
- calendar_month 13 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Tetap Tersenyum Demi Kebersihan Kuningan
KUNINGAN,- Di bawah langit panas Kuningan yang seolah tak pernah berbelas kasih, langkah Mang Didi terus berjalan. Peluhnya jatuh satu-satu, bercampur dengan aroma menyengat yang setiap hari ia hadapi—aroma yang bagi banyak orang adalah hal menjijikkan, namun baginya adalah bagian dari hidup yang tak bisa ditolak.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Grobak tua yang ia dorong bukan sekadar alat, melainkan saksi bisu perjuangan. Besinya berkarat, rodanya berderit lirih, seakan ikut mengeluh menahan beban. Kendaraan itu adalah bantuan dari masa lalu—tahun 2013—yang kini telah renta, nyaris tak layak jalan. Namun bagi Mang Didi, itulah “kuda besi” terakhir yang setia menemaninya mengangkut sisa-sisa kehidupan orang lain.
Ironisnya, ketika roda itu rusak, ketika rangka itu retak, tak ada tangan yang datang memperbaiki.
Semua ia tanggung sendiri, dari uang yang bahkan tak sebanding dengan tenaga yang ia habiskan. Setiap perbaikan adalah pengorbanan. Setiap hari kerja adalah pertaruhan antara lelah dan bertahan.
Sementara itu, sampah terus menumpuk—jutaan kilo setiap hari—seolah tak pernah berhenti diproduksi. Namun di balik gunungan itu, hanya ada sedikit yang benar-benar melihat siapa yang membersihkannya.
Jawaban yang ia terima pun tak pernah berubah: bersabar.
Sabar atas keterbatasan anggaran.
Sabar atas alasan efisiensi.
Sabar, seolah itu cukup untuk menambal luka yang terus menganga.
Mang Didi tak pernah meminta banyak. Ia hanya ingin dihargai sebagai manusia yang menjaga kebersihan bumi yang kita pijak.
Tapi di balik semua itu, ia tetap berjalan—dengan napas yang berat, dengan harapan yang pelan-pelan menipis.
Karena bagi Mang Didi, berhenti bukan pilihan.
Meski dunia seakan tak pernah benar-benar melihatnya.
- Penulis: Admin













