Surplus Beras Meningkat, Kuningan Tegaskan Peran Nyata Penyuluh Pertanian
- account_circle Admin
- calendar_month 14 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Dinas Pertanian Dan Penyuluh Kab.kuningan
KUNINGAN — Pemerintah Kabupaten Kuningan menegaskan komitmennya dalam memperkuat sektor pertanian dengan memastikan tidak ada lagi penyuluh pertanian yang “tak terlihat” di tengah petani. Langkah ini menjadi bagian penting dalam percepatan swasembada pangan, seiring meningkatnya capaian surplus beras daerah dalam dua tahun terakhir.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Data Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian mencatat lonjakan surplus beras yang signifikan, dari 93 ribu ton pada 2024 menjadi 120 ribu ton pada 2025. Capaian ini menempatkan Kuningan sebagai salah satu daerah strategis penopang kebutuhan pangan di wilayah Jawa Barat.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kuningan, Wahyu Hidayah, menegaskan bahwa keberhasilan tersebut tidak boleh membuat lengah. Ia menekankan pentingnya transformasi peran penyuluh pertanian agar lebih aktif, responsif, dan benar-benar hadir di tengah petani.
Menurutnya, penyuluh bukan hanya pendamping teknis, melainkan harus menjadi agen perubahan yang mampu mengedukasi dan menggerakkan petani menghadapi tantangan zaman, mulai dari perubahan iklim hingga dinamika pasar global.
Sepanjang 2025, produksi padi Kuningan mencapai 396.873 ton Gabah Kering Giling (GKG) atau setara 254.435 ton beras. Dengan kebutuhan konsumsi masyarakat sekitar 134.191 ton per tahun, daerah ini berhasil mencatat surplus beras sebesar 120.244 ton.
Memasuki awal 2026, capaian tersebut semakin menguat. Hingga akhir Maret, sekitar 78 persen lahan sawah atau 20.310 hektare dari total luas 26.016 hektare telah dipanen. Angka ini menunjukkan percepatan musim panen yang lebih progresif dibandingkan sejumlah daerah lain.
“Ini menunjukkan Kuningan tidak hanya surplus, tetapi juga lebih cepat dalam mengawal musim tanam dan panen, sehingga mampu mengisi pasokan beras nasional sejak awal tahun,” ujar Wahyu.
Meski demikian, ia tidak menutup mata terhadap berbagai tantangan ke depan. Kritik dari petani terkait minimnya kehadiran penyuluh di lapangan menjadi perhatian serius yang harus segera dibenahi.
Sebagai langkah konkret, pemerintah daerah mendorong perubahan pola kerja penyuluh menjadi lebih proaktif, solutif, serta adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan petani. Tiga kekuatan utama yang harus dimiliki penyuluh ke depan, yakni penguasaan pengetahuan, kemampuan membangun kepercayaan, dan integritas.
Dengan modal surplus yang terus meningkat serta sistem tanam yang semakin progresif, Kuningan diyakini mampu terus berkontribusi dalam menjaga ketahanan pangan, baik di tingkat daerah maupun nasional.
“Ini bukan sekadar capaian daerah, tetapi bagian dari tanggung jawab kita bersama dalam menjaga pangan Indonesia,” tegas Wahyu.
- Penulis: Admin













