Catatan Ramadan: Hakikat Puasa Laku Spiritual Membersihkan Jiwa dan Kembali ke Jati Diri
- account_circle sep
- calendar_month Kamis, 19 Feb 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Sep Rhtd
Jelajahtvnews.com ,-Puasa bagi masyarakat Nusantara, khususnya dalam pandangan leluhur Sunda, bukan sekadar menahan lapar dan haus dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Lebih dari itu, puasa dimaknai sebagai laku spiritual untuk membersihkan diri lahir dan batin, serta perjalanan kembali mengenal jati diri sebagai manusia.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Puasa sebagai proses ngabersihan diri, yakni membersihkan hati dari sifat buruk seperti amarah, kesombongan, iri, dan keserakahan. Saat tubuh menahan lapar, manusia diajak untuk belajar mengendalikan hawa nafsu. Karena sejatinya, yang paling penting dalam puasa bukan hanya menahan keinginan fisik, tetapi juga menahan gejolak batin.
Dalam filosofi karuhun, puasa adalah momen mulih ka jati, mulang ka asal, yang berarti kembali kepada jati diri dan mengingat asal-usul kehidupan.
Ketika perut kosong, hati menjadi lebih peka, pikiran lebih jernih, dan jiwa lebih mudah merasakan kehadiran Sang Pencipta. Inilah saat manusia menyadari bahwa dirinya kecil dan bergantung sepenuhnya kepada kehendak Tuhan.
Selain itu, puasa juga menjadi sarana untuk menumbuhkan rasa welas asih. Dengan merasakan lapar, manusia diingatkan pada penderitaan sesama yang kekurangan. Dari situlah lahir kepedulian, empati, dan keinginan untuk berbagi. Leluhur percaya, manusia sejati adalah manusia yang mampu memberi manfaat bagi orang lain.
Makna terdalam dari puasa bahkan disebut sebagai “mati sateuacan paeh”, atau mati sebelum mati. Maksudnya adalah mematikan ego, kesombongan, dan nafsu buruk, agar yang tersisa adalah jiwa yang bersih dan kesadaran yang murni.
Dengan demikian, hakikat puasa menurut leluhur merupakan perjalanan spiritual untuk membersihkan diri, mengendalikan nafsu, memperkuat kepedulian, serta mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Puasa bukan hanya kewajiban fisik, tetapi juga laku batin untuk menjadi manusia yang lebih sadar, lebih rendah hati, dan lebih bijaksana dalam menjalani kehidupan.
- Penulis: sep
