Menapak Jejak Patapan, Pembangunan Masjid Baru Membuka Kembali Kisah Sejarah
- account_circle jelajahtv news
- calendar_month 7 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

CIREBON — Di antara bentang perbukitan Geronggong, tepatnya Desa patapan Kecamatan Beber, Kabupaten Cirebon, sebuah rumah ibadah tengah dibangun. Di balik proses pembangunan tersebut, tersimpan sebuah ikhtiar spiritual yang tidak sekadar menghadirkan bangunan fisik, tetapi juga membuka ruang pengabdian, pelayanan umat, dan penelusuran jejak sejarah masa lalu.

Proses pembangunan Mesjid di grobggong
Pembangunan masjid yang diprakarsai H. Soeteddy, pengusaha asal Desa Kaliaren, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan, ini menjadi bagian dari perjalanan panjang pengabdiannya dalam membangun rumah ibadah. Masjid di Geronggong tersebut merupakan pembangunan masjid ke-13 yang diinisiasinya.
Bagi H. Soeteddy, pembangunan masjid bukan semata tentang mendirikan bangunan dengan batu, pasir, dan semen. Lebih dari itu, masjid diharapkan menjadi ruang teduh bagi masyarakat, khususnya umat Islam yang tengah melakukan perjalanan atau musafir, untuk menunaikan kewajiban ibadah di tengah perjalanan.
Menapak Jejak Sejarah Geronggong
Wilayah Geronggong yang berada di jalur penghubung Cirebon–Kuningan memiliki posisi geografis yang menarik dalam penelusuran sejarah kawasan Cirebon.
Dalam perjalanan sejarah Islam di Cirebon, nama Pangeran Cakrabuana, Sunan Gunung Jati, serta para tokoh penyebar Islam menjadi bagian penting dari narasi perkembangan dakwah dan peradaban masyarakat.
Kehadiran masjid baru di kawasan Geronggong pun membuka ruang refleksi mengenai hubungan antara kehidupan keagamaan masa kini dengan perjalanan sejarah masyarakat pada masa lampau.
Apakah kawasan ini pernah menjadi tempat persinggahan para pendahulu? Adakah petilasan, makam leluhur, atau tradisi lisan yang masih tersimpan dalam ingatan para sesepuh?
Pertanyaan tersebut menjadi pintu masuk untuk menggali lebih jauh sejarah lokal Geronggong, sehingga pembangunan masjid tidak hanya menjadi peristiwa keagamaan, tetapi juga momentum merawat ingatan kolektif masyarakat.
Dari Pengabdian Menuju Pelayanan Umat
Di balik pembangunan masjid ke-13 ini, tersirat sebuah pesan tentang makna pengabdian seorang hamba kepada Sang Maha Pencipta.
Melalui ikhtiar H. Soeteddy, rumah ibadah diharapkan menjadi tempat bertemunya doa, ketulusan, dan persaudaraan. Sebuah ruang yang terbuka bagi siapa pun yang membutuhkan tempat bersujud, terutama mereka yang sedang menempuh perjalanan jauh.
Sebab, masjid bukan sekadar tempat mendirikan salat. Ia adalah tempat manusia kembali mengingat tujuan hidup, merendahkan hati, dan menemukan ketenangan di tengah perjalanan dunia.
Dari Geronggong, sebuah ikhtiar keagamaan kembali ditanamkan. Bukan hanya untuk generasi hari ini, melainkan juga sebagai warisan kebaikan bagi generasi yang akan datang.
Sebuah bangunan mungkin kelak menua dimakan waktu, tetapi nilai keikhlasan dan manfaatnya diharapkan tetap hidup, melampaui usia pendirinya.
Dari tanah Geronggong, H. Soeteddy menapaki jalan pengabdian: membangun ruang ibadah, merawat persaudaraan, dan menghadirkan manfaat bagi sesama.
- Penulis: jelajahtv news

Saat ini belum ada komentar