TRAGIS DI KUNINGAN: Korban Bullying Kehilangan Ayah untuk Selamanya
- account_circle jelajahtv news
- calendar_month 3 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

KUNINGAN,- Di sebuah rumah sederhana berdinding bilik bambu, di Desa Nusaherang, Kecamatan Nusaherang, Kabupaten Kuningan, tersimpan kisah pilu tentang seorang anak bernama Adi.
Rumah itu mungkin tak memiliki banyak kemewahan. Dindingnya sederhana, ruangannya bersahaja. Namun, di sanalah sebuah keluarga kecil berjuang mempertahankan harapan, di tengah kehidupan yang serba terbatas.
Adi hidup bersama ayah dan ibunya. Sang ayah ( diperankan Oleh Yanto Chrisdianto ) telah lama terbaring sakit. Sementara sang ibuĀ yang diperankan oleh Siti hardianti , dengan segala keterbatasan, tetap setia mendampingi suaminya sekaligus berjuang menjadi tulang punggung keluarga.
Di tengah kehidupan yang tidak mudah, Adi ( diperankan oleh Rafanizzar ) tumbuh menjadi anak yang pendiam. Namun, di balik kesederhanaannya, tersimpan potensi dan prestasi yang membanggakan.
Sayangnya, keadaan ekonomi keluarga justru menjadi alasan bagi sebagian teman sekolahnya untuk merundung dirinya.
Kata-kata yang menyakitkan, perlakuan yang merendahkan, dan tatapan yang menghakimi menjadi luka yang harus ditanggung seorang anak yang seharusnya menikmati masa kecil dengan penuh kebahagiaan.
Namun, Adi memilih diam.
Ia tidak pernah benar-benar menceritakan kepedihannya kepada kedua orang tuanya. Seolah tak ingin menambah beban keluarga yang sudah begitu berat memikul kehidupan.
Setiap kali pulang sekolah setelah mengalami perundungan, langkahnya terasa semakin berat. Ia hanya berjalan perlahan menuju rumah, kemudian terdiam menatap dinding bilik bambu yang menjadi saksi bisu perjalanan hidupnya.
Di sudut rumah, sang ayah yang tengah terbaring sakit hanya mampu melirik pelan menyambut kepulangan buah hatinya.
Ada tatapan kasih seorang ayah yang tak mampu lagi banyak berbuat. Ada pula kesedihan seorang anak yang tak sanggup mengungkapkan apa yang sebenarnya sedang ia rasakan.
Sesekali Adi menoleh kepada ibunya. Lalu masuk ke kamar dan memilih menyimpan seluruh kepedihan seorang diri.

Adegan Film Stop Bulying diperankan adi
Hingga takdir berkata lain.
Di tengah perjuangan keluarga menghadapi keterbatasan dan penyakit sang ayah, sebuah kenyataan pahit akhirnya datang. Sang ayah harus berpulang untuk selama-lamanya.
Kini, Adi bukan hanya harus menghadapi luka akibat perundungan, tetapi juga kehilangan sosok ayah yang selama ini menjadi bagian dari kehidupannya.
Sebuah kehilangan yang mungkin terlalu berat untuk dipahami oleh seorang anak.
Sebuah kisah dari layar lebar untuk suara anak-anak Indonesia
Sepenggal kisah menyentuh ini merupakan bagian dari proses produksi film layar lebar berjudul Aku Bukan Musuhmu, Tapi Aku Sahabatmu.
Memasuki hari kelima produksi, pengambilan gambar dilakukan di wilayah Desa Nusaherang, Kabupaten Kuningan.
Film ini merupakan karya Sultan Sepuh Cirebon, Pangeran Kuda Putih, melalui PH Kuda Putih Picture.
Lebih dari sekadar karya sinematografi, film ini membawa pesan kemanusiaan tentang pentingnya kepedulian terhadap anak-anak yang mengalami perundungan atau bullying.
Melalui kisah Adi, masyarakat
diajak untuk membuka mata bahwa bullying bukan persoalan sepele. Luka yang ditimbulkannya bisa menetap dalam ingatan, meruntuhkan kepercayaan diri, bahkan merampas kebahagiaan masa kecil seorang anak.
Film ini sekaligus menjadi bagian dari kampanye nasional gerakan #STOPBULLYING, sebagai ajakan kepada seluruh elemen masyarakat, keluarga, sekolah, pemerintah, dan para pemangku kepentingan untuk bersama-sama melindungi generasi penerus bangsa.
Karena setiap anak berhak tumbuh dengan rasa aman.
Setiap anak berhak dihargai.
Dan tidak boleh ada satu pun anak yang merasa menjadi musuh hanya karena keadaan hidupnya berbeda.
“Aku Bukan Musuhmu, Tapi Aku Sahabatmu.”
Sebuah pesan sederhana, tetapi memiliki makna mendalam: jangan wariskan kebencian kepada anak-anak, ajarkan mereka persahabatan, kepedulian, dan kemanusiaan.
- Penulis: jelajahtv news

Saat ini belum ada komentar