Menu MBG Dikritik Pedas, Wabup Kuningan: Anak-anak Jangan Diberi Makanan Asal Jadi.
- account_circle Admin
- calendar_month 10 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Wakil Bupati Kuningan, Tuti Andriani,
KUNINGAN — Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Kuningan menuai sorotan tajam. Wakil Bupati Kuningan, Tuti Andriani, secara terbuka meluapkan kekecewaannya usai melakukan inspeksi mendadak (sidak) di SDN 1 Karangmangu dan SDN 1 Cilaja.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Di hadapan sejumlah pihak, Tuti mengaku geram melihat menu makanan yang disajikan kepada para siswa. Ia menilai kualitas dan porsi makanan yang diberikan sangat jauh dari harapan, terutama pada bagian sayuran yang dinilai terlalu minim untuk ukuran kebutuhan gizi anak-anak sekolah.
“Itu memang sangat keterlaluan ya Pak, itu hanya dengan dua lembar sayuran, dua iris wortel, dua iris pakcoy, yang satunya seperti rolade. Itu mohon-mohon itu di luar SOP. Mereka harusnya berpikir semua ini dibiayai negara, tinggal mereka laksanakan,” tegas Tuti dengan nada kecewa.
Menurutnya, program MBG tidak boleh dijalankan sekadar formalitas tanpa memperhatikan kualitas makanan. Sebab, program tersebut menyangkut masa depan dan pertumbuhan generasi muda di Kabupaten Kuningan.
“Jangan seperti itu, tidak ada anak meninggal gara-gara kelebihan sayur, jadi harus disesuaikanlah. Ini mah ulah dihinakeun teuing,” lanjutnya.
Wabup Tuti menegaskan bahwa para pengelola MBG memiliki tanggung jawab moral besar karena program tersebut menggunakan anggaran negara untuk memenuhi kebutuhan gizi anak-anak sekolah.
Ia bahkan mengibaratkan pengelolaan MBG seperti amanah besar yang harus dibagikan secara adil dan layak kepada para penerima manfaat.
“Dan jangan salah Pak, para pengelola MBG ini mereka itu seperti menerima warisan yang harus disesuaikan bagiannya kepada penerimanya,” katanya.
Meski belum memberikan sanksi atau teguran resmi, Tuti meminta seluruh pelaksana program segera melakukan evaluasi dan menjalankan MBG sesuai standar operasional yang telah ditetapkan pemerintah pusat.
Sorotan ini semakin tajam karena Kabupaten Kuningan masih menghadapi persoalan stunting yang cukup tinggi. WabubTuti mengingatkan, jika kualitas menu MBG terus diabaikan, maka program besar pemerintah tersebut bisa kehilangan tujuan utamanya.
“Apalagi nanti kita Kuningan ini stunting-nya cukup tinggi.
Jadi kalau program MBG-nya tetap tapi stunting belum ada penurunan, berarti itu ada kesalahan di pemberian menu itu tadi,” pungkasnya.
Kritik keras Wakil Bupati Kuningan kini menjadi perhatian publik. Masyarakat berharap evaluasi serius segera dilakukan agar program MBG benar-benar menjadi solusi peningkatan gizi anak sekolah, bukan sekadar proyek seremonial semata.
- Penulis: Admin


