Secangkir Kopi Pagi Di Talaga Surian
- account_circle jelajahtv news
- calendar_month 12 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Oleh: Redaksi jelajahtvnews
Merawat Kebersamaan, Menyerap Kearifan Alam, Menemukan Makna Pengabdian
KUNINGAN — Senin pagi, 5 Oktober 2026. Matahari perlahan beranjak dari peraduannya. Embusan angin di ketinggian Talaga Surian menyapa dengan kesejukan, seolah mengundang siapa pun untuk sejenak meninggalkan hiruk-pikuk rutinitas dan menyelami ketenangan alam.
Satu demi satu kendaraan bergerak menapaki jalan berbukit, mengantarkan para pejabat dan aparatur Pemerintah Kabupaten Kuningan menuju sebuah ruang pertemuan yang tak lazim. Bukan gedung megah dengan pendingin udara, melainkan sebuah basecamp di tengah bentang alam, tempat percakapan tentang pemerintahan dipertemukan dengan kesederhanaan.
Di bawah atap tenda BPBD Kabupaten Kuningan, berkumpul Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, didampingi Wakil Bupati Tuti Andriani, S.H., M.Kn., Sekretaris Daerah U. Kusmana, S.Sos., M.Si., bersama jajaran SKPD, para camat, lurah, dan pemangku kepentingan terkait.
Mereka hadir bukan sekadar memenuhi agenda rapat koordinasi. Ada persoalan yang perlu dibicarakan, ada tantangan yang harus diurai, dan ada harapan masyarakat yang menunggu untuk diterjemahkan menjadi kerja nyata.
Dari Mulai Isyu Geoteral Termal Hingga Ke Anggaran Lingkungan. Dari PJU hingga Keperbaikan Ekonomi
Suasana berlangsung hangat. Pembicaraan serius mengalir dalam suasana santai. Gagasan bertemu dengan pengalaman, perbedaan pandangan menemukan ruang dialog, sementara secangkir kopi panas menjadi teman sederhana di antara percakapan tentang masa depan Kabupaten Kuningan.
Di tempat itu, kesederhanaan justru menghadirkan makna yang lebih dalam.
Sebab kepemimpinan tidak selalu harus ditampilkan melalui kemegahan ruang, panjangnya meja rapat, atau formalitas yang berlapis. Terkadang, kedekatan justru tumbuh ketika sekat-sekat jabatan mencair, ketika setiap orang memiliki ruang untuk berbicara, mendengar, dan memahami.
Talaga Surian seolah menjadi ruang belajar yang sunyi.
Dari pepohonan, kita belajar tentang keteguhan. Dari angin, kita belajar tentang kelembutan. Dari tanah, kita belajar tentang kesabaran. Dan dari alam, kita memahami bahwa kehidupan tidak pernah berdiri sendiri. Setiap unsur memiliki peran, setiap keberadaan membawa manfaat, dan setiap perbedaan menjadi bagian dari keseimbangan.
Begitu pula pemerintahan.
Pembangunan bukanlah pekerjaan satu orang, satu jabatan, atau satu institusi. Ia merupakan ikhtiar bersama yang membutuhkan keselarasan pikiran, ketulusan hati, serta keberanian untuk mendengar suara dari berbagai penjuru.
Di antara dinginnya udara pegunungan dan hangatnya kopi yang tersaji, tersimpan sebuah pesan sederhana: bahwa pengabdian sejatinya tidak diukur dari seberapa tinggi seseorang menduduki jabatan, melainkan seberapa besar manfaat yang mampu dihadirkan bagi kehidupan.
Mungkin, inilah filosofi yang hendak dititipkan oleh pagi di Talaga Surian.
Bahwa sebelum berbicara tentang kebijakan, manusia perlu belajar menjadi manusia. Sebelum merumuskan arah pembangunan, pemimpin perlu memahami kehidupan. Dan sebelum melangkah lebih jauh, ada baiknya kita berhenti sejenak, mendengarkan alam, serta mendengar satu sama lain.

Sebab secangkir kopi dapat menjadi lebih dari sekadar minuman. Ia bisa menjadi simbol persaudaraan, ruang bertukar pikiran, dan pengingat bahwa pengabdian yang besar sering kali berawal dari pertemuan yang sederhana.
Dari Talaga Surian, kita belajar tentang hening. Dari kesunyian, kita menemukan kejernihan. Dan dari alam, kita memahami bahwa kebermanfaatan adalah bahasa paling luhur dalam kehidupan.
Karena pada akhirnya, jabatan akan berganti, waktu akan berlalu, tetapi jejak kebaikan yang ditanamkan untuk sesama akan tetap tumbuh, sebagaimana pepohonan yang setia menjaga bumi.
Secangkir Kopi Pemda di Talaga Surian: Merawat Kebersamaan, Meneguhkan Pengabdian, Menyemai Manfaat bagi Kuningan.
- Penulis: jelajahtv news

Saat ini belum ada komentar