Susukan dalam Perspektif Sejarah, Hadiah Istimewa di Milangkala Desa ke-340
- account_circle jelajahtv news
- calendar_month 8 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Susukan, – Pagi itu, 19 Juni 2026. Matahari baru saja menampakkan dirinya dari ufuk timur. Cahaya keemasannya perlahan menyapu langit yang biru dan jernih, seolah ikut menyambut sebuah peristiwa bersejarah yang telah dinanti oleh seluruh warga.
Ratusan masyarakat Desa Susukan tampak memadati halaman Bale Desa. Wajah-wajah penuh harap dan kebanggaan menyatu dalam suasana yang khidmat. Mereka hadir untuk menjadi saksi perjalanan panjang kampung halamannya dalam rangkaian Milangkala Desa Susukan ke-340 tahun.
Hari bersejarah itu diawali dengan Sidang Paripurna Penetapan Hari Jadi Desa Susukan. Sebuah momentum yang bukan sekadar seremonial, melainkan peneguhan identitas dan penghormatan kepada jejak para pendahulu yang telah meletakkan pondasi peradaban di tanah yang mereka cintai.
Melalui perjalanan panjang penelitian, dengan berbekal sumber-sumber sejarah yang valid, para akademisi, budayawan, serta narasumber dari berbagai lintasan zaman—mulai dari masa pra-Islam, era Islam, hingga modernisasi—akhirnya sejarah Desa Susukan berhasil dirangkai dalam sebuah karya berharga berjudul “Susukan dalam Perspektif Sejarah”. Sebuah buku yang menjadi jendela bagi generasi hari ini dan masa depan untuk mengenali akar peradabannya.
Rangkaian Milangkala kemudian berlanjut menuju makam keramat Syeh Tumenggung Jayadipura. Di tempat yang penuh jejak sejarah itu, masyarakat berkumpul dalam Zikir Akbar dan doa bersama. Lantunan ayat suci, shalawat, dan doa-doa yang dipanjatkan dengan penuh ketulusan menggema di antara pepohonan dan semilir angin pagi.
Tak sedikit mata yang berkaca-kaca. Sebab di sana, mereka tidak hanya mengenang leluhur, tetapi juga merasakan ikatan batin yang tak pernah putus antara masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang.

Saatenonton pagelaran wayang golek
Memasuki hari kedua, suasana berubah menjadi lebih semarak namun tetap sarat makna. Tradisi kuno masyarakat Susukan kembali dihidupkan melalui kegiatan Nga Gogo atau Ngobeng, sebuah tradisi menangkap ikan dengan tangan kosong yang diwariskan turun-temurun oleh para leluhur.
Di aliran Sungai Cisande, tawa dan sorak kegembiraan bercampur menjadi satu. Anak-anak, orang tua, pemuda, hingga para sesepuh turun bersama ke sungai. Bukan sekadar mencari ikan, tetapi merawat kenangan, menjaga warisan budaya, dan mempererat tali persaudaraan yang telah terjalin selama ratusan tahun.
Puncak Milangkala menjadi perayaan yang begitu menggetarkan hati. Arak-arakan hasil bumi bergerak perlahan menyusuri jalan desa, menampilkan limpahan berkah yang telah diberikan Sang Pencipta kepada tanah Susukan. Hasil pertanian yang dibawa warga menjadi simbol rasa syukur atas kehidupan yang terus tumbuh dan berkembang.
Di tengah kemeriahan itu, santunan kepada anak-anak yatim menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sejati adalah ketika mampu berbagi kepada sesama. Sebuah wujud nyata dari nilai welas asih yang diwariskan oleh leluhur dan terus hidup dalam denyut kehidupan masyarakat Susukan.
Malam harinya, ribuan warga kembali berkumpul di Lapang Kertapati. Di bawah langit malam yang tenang, pagelaran wayang golek bersama dalang legendaris Asep Sunandar Sunarya menjadi penutup yang begitu berkesan. Lakon yang dimainkan seakan mengisahkan perjalanan panjang sebuah desa yang terus berdiri kokoh menghadapi perubahan zaman.
Di penghujung acara, Kepala Desa Susukan, Toto Ciptarasa, tak mampu menyembunyikan rasa haru dan bangganya. Di hadapan masyarakat, beliau menyampaikan bahwa kekuatan terbesar Desa Susukan bukan hanya sejarah panjang yang dimilikinya, melainkan kebersamaan dan gotong royong warganya.
“Mengakar kepada leluhur, menularkan welas asih. Tema ini bukan hanya sebuah kalimat, tetapi menjadi cermin perjalanan Desa Susukan selama 340 tahun. Terima kasih kepada seluruh masyarakat Susukan. Kebersamaan inilah yang akan membawa desa kita menjadi lebih baik, lebih maju, dan lebih bermartabat di masa yang akan datang.”
Dan ketika malam semakin larut, ketika lampu-lampu panggung mulai redup, Milangkala ke-340 bukanlah akhir dari sebuah perayaan. Ia menjadi awal dari tekad baru untuk terus menjaga warisan leluhur, merawat persaudaraan, serta menuliskan lembaran sejarah berikutnya bagi generasi yang akan datang.
Susukan bukan hanya sebuah desa. Ia adalah rumah kenangan, mata air peradaban, dan warisan cinta yang akan terus hidup sepanjang zaman.
- Penulis: jelajahtv news

