Mengenang Jasa Para Pendahulu, Bupati Dian Ziarah 21 Titik Menjelang Hari Jadi Kuningan
- account_circle Jelajah TvNews
- comment 0 komentar
- print Cetak

KUNINGAN — Menjelang Milangkala Kabupaten Kuningan ke-528, rangkaian peringatan tahun ini terasa lebih teduh dan sarat makna. Di tengah kesibukan menyambut hari jadi, Pemerintah Kabupaten Kuningan memilih menghadirkan perayaan yang tidak semata-mata gemerlap, tetapi juga mengajak masyarakat kembali menengok akar sejarah dan mengenang jasa para pendahulu.
Salah satu warna baru dalam rangkaian Hari Jadi Kuningan ke-528 adalah kegiatan ziarah ke makam para pahlawan, pendiri Kuningan, hingga para mantan bupati yang pernah mengabdikan diri bagi daerah.
Bupati Kuningan, Dr. H. Dian Rachmat, bersama jajaran pemerintah daerah, menyempatkan diri berziarah ke makam para almarhum bupati terdahulu. Di antara makam yang dikunjungi adalah makam mantan Bupati Kuningan, Alm. H. Acep Purnama.
Ziarah tersebut menjadi lebih dari sekadar ritual menjelang hari jadi. Ia menjadi perjalanan batin untuk menyusuri jejak kepemimpinan masa lalu—mengenang mereka yang pernah menanamkan gagasan, mengabdikan tenaga, dan meletakkan fondasi bagi Kuningan hari ini.
«“Saya ingin semua makam bupati ini diziarahi. Seperti saat ini, kita berziarah ke bupati terdekat, almarhum Bapak H. Acep Purnama. Bahkan ada 21 titik ziarah, termasuk terakhir kita berziarah ke Sunan Gunung Jati Cirebon,” ujar Bupati Dian.»
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang diwarnai sejumlah event besar seperti Tour de Linggarjati, peringatan Hari Jadi Kuningan ke-528 kali ini lebih disederhanakan dengan menghadirkan kegiatan yang dekat dengan nilai spiritual dan sosial kemasyarakatan.
Beragam kegiatan keagamaan, bersih-bersih makam, hingga tablig akbar menjadi bagian dari rangkaian Milangkala. Kesederhanaan itu justru menghadirkan pesan yang dalam: bahwa merayakan usia sebuah daerah bukan hanya tentang panggung dan keramaian, tetapi juga tentang rasa syukur, penghormatan, dan ingatan terhadap orang-orang yang telah lebih dahulu mengabdi.
Di antara doa yang dipanjatkan dan langkah kaki yang menyusuri pusara, sejarah seakan kembali berbicara. Para pendahulu mungkin telah tiada, tetapi jejak pengabdiannya tetap hidup dalam perjalanan Kuningan.
528 tahun Kuningan bukan sekadar hitungan usia. Ia adalah perjalanan panjang yang dirajut oleh generasi demi generasi—dan ziarah menjadi cara sederhana untuk berkata: jasa para pendahulu tidak akan dilupakan.
- Penulis: Jelajah TvNews


