Tumapak ka Jaman Baheula: Ketika Kuningan Menengok Masa Lalu untuk Melangkah ke Masa Depan
- account_circle Jelajah TvNews
- calendar_month Minggu, 13 Sep 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

KUNINGAN,- Minggu, 13 September 2026, jalan-jalan di Kabupaten Kuningan berubah menjadi panggung sejarah.
Ribuan warga tumpah ruah menyaksikan Helaran Karnaval Budaya Hari Jadi ke-528 Kuningan bertajuk “Tumapak ka Jaman Baheula: Napak Tilas Kuningan.”
Selama kurang lebih lima jam, masa lalu seolah kembali berjalan di tengah masyarakat.
Replika Kuda Putih, kesenian tradisional, angklung, pencak silat, drumband, kostum Nusantara hingga kisah Kerajaan Saunggalah dan perjalanan sejarah Kuningan disajikan dalam satu arak-arakan besar.
Bukan sekadar tontonan.
Tetapi sebuah pertanyaan:
Seberapa jauh kita mengenal akar dari tanah yang kita pijak hari ini?
Dari jejak masa pra-sejarah, Hindu-Buddha, masuknya Islam, masa kolonial, perjuangan kemerdekaan, Perundingan Linggarjati, hingga Kuningan di era modern—semuanya dirangkai menjadi cerita yang berjalan di hadapan mata.
Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar bersama Wakil Bupati Tuti Andriani dan jajaran Forkopimda pun hadir dengan balutan busana Nusantara dan Saung Galah.
Mereka berjalan kaki menuju panggung kehormatan.
Sebuah simbol bahwa sejarah bukan hanya untuk dikenang dari kejauhan, tetapi harus terus dihidupkan dalam langkah hari ini.
Bupati Dian menyampaikan pesan sederhana namun mendalam:
“Tradisi adalah akar, budaya adalah jati diri.”
Kalimat itu menjadi ruh dari helaran tahun ini.
Sebab modernitas tidak semestinya membuat sebuah daerah kehilangan wajahnya.
Kuningan boleh bergerak mengikuti zaman.
Tetapi jangan sampai kemajuan membuat kita lupa kepada leluhur, sejarah, tradisi, dan nilai-nilai yang membentuk identitas daerah.
Menariknya, helaran ini juga tidak berhenti pada cerita masa lalu.
Peserta menyelipkan pesan tentang kebersihan, lingkungan, tata kelola pemerintahan hingga harapan terhadap masa depan Kuningan.
Di sinilah karnaval menemukan maknanya.
Tontonan sekaligus tuntunan.
Dan di tengah kemeriahan itu, Anugerah Tokoh Pinunjul Kuningan diberikan kepada Andi Gani Nena Wea sebagai penghargaan atas kontribusinya bagi masyarakat dan pembangunan daerah.
Helaran kemudian ditutup dengan optimisme.
Kuningan tidak ingin hanya menjadi daerah yang indah untuk dikenang.
Kuningan ingin menjadi daerah yang mampu menggali potensi alam, sumber daya manusia, budaya, dan ekonomi kreatif untuk melompat lebih jauh.
Karena pada akhirnya…
Menengok masa lalu bukan berarti berjalan mundur.
Justru dari sanalah kita belajar menentukan arah.
Tumapak ka jaman baheula…
melangkah ke zaman dahulu untuk menemukan pijakan menuju masa depan.
Kuningan memiliki sejarah.
Kuningan memiliki budaya.
Kuningan memiliki potensi.
Kini pertanyaannya bukan lagi,
“Apa yang kita punya?”
Tetapi…
“Seberapa berani kita mengolahnya menjadi kekuatan untuk Kuningan yang melejit dan melesat ke depan?”
- Penulis: Jelajah TvNews


