Batu Cupu Susukan: Jejak Peradaban Sunda Kuno yang Menembus Zaman
- account_circle jelajahtv news
- calendar_month 4 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

KUNINGAN,- Di balik hamparan sawah dan aliran sungai yang membelah tanah Susukan, tersimpan jejak panjang perjalanan sebuah peradaban. Sebuah kisah yang bermula dari mata air kehidupan, di kawasan sakral Sendang Cikabuyutan.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Ratusan bahkan mungkin ribuan tahun silam, ketika belum ada jalan, belum ada batas-batas wilayah, dan belum terdengar azan menggema di tanah ini, manusia telah menemukan tempat terbaik untuk memulai kehidupan. Di sekitar sumber air yang tak pernah kering, mereka membangun permukiman, bercocok tanam, dan menjalin hubungan harmonis dengan alam yang memberi kehidupan.
Aliran Cisande dan Ciberes menjadi saksi bagaimana masyarakat awal Susukan tumbuh dan berkembang. Mereka hidup sederhana, mengolah tanah, memanfaatkan hasil alam, serta menyesuaikan diri dengan setiap lekuk bentang alam yang mengelilinginya.
Namun Susukan bukan hanya tentang kehidupan agraris. Di tanah ini berdiri peninggalan masa lampau yang masih menyimpan banyak misteri. Batu Cupu, Batu Yoni, dan bebatuan besar yang tersebar di kawasan kabuyutan menjadi penanda hadirnya peradaban tua yang pernah berkembang jauh sebelum datangnya pengaruh Islam.
Benda-benda batu tersebut bukan sekadar artefak sejarah. Mereka adalah simbol keyakinan, cerminan cara pandang manusia terhadap alam semesta, kehidupan, dan kekuatan-kekuatan yang dianggap menjaga keseimbangan dunia. Pada masa itu, masyarakat Sunda kuno meyakini bahwa alam memiliki ruh dan kehendaknya sendiri. Gunung, mata air, pepohonan, hingga bebatuan dipercaya menjadi bagian dari dunia yang hidup dan sakral.
Di tengah kepercayaan tersebut, lahirlah konsep kabuyutan, ruang suci tempat leluhur dihormati dan kekuatan kosmis diyakini bersemayam. Kabuyutan menjadi pusat spiritual masyarakat, tempat manusia berusaha memahami hubungan antara dirinya, alam, dan dunia yang tak kasatmata.
Legenda-legenda kuno pun tumbuh dari tanah ini. Kisah tentang tokoh-tokoh sakti yang bertapa di puncak gunung, tentang roh penjaga alam, hingga sosok Nyai Putri Dewi Candra Wulan yang melambangkan kesuburan dan kehidupan. Semua menyatu dalam tradisi lisan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Air yang mengalir dari mata air kabuyutan bukan hanya sumber kehidupan fisik, tetapi juga menjadi simbol kelahiran, kesuburan, dan keberlanjutan kehidupan masyarakat Susukan. Dari sinilah identitas budaya lokal mulai terbentuk, menciptakan jalinan antara mitos, ritual, dan nilai-nilai kehidupan yang terus bertahan hingga kini.
Lalu waktu bergerak. Angin perubahan datang membawa ajaran baru. Islam mulai memasuki wilayah ini, perlahan menyatu dengan tradisi yang telah hidup sebelumnya. Sebuah transformasi sosial dan spiritual pun dimulai, membentuk wajah baru Desa Susukan tanpa sepenuhnya menghapus jejak-jejak masa lalunya.
Inilah kisah tentang asal-usul Susukan. Sebuah perjalanan panjang dari mata air peradaban, warisan budaya Sunda kuno, hingga datangnya era Islamisasi yang mengubah arah sejarah masyarakatnya.
- Penulis: jelajahtv news

