Bupati Saba Lembur di Subang: Saat Budaya, Aspirasi dan Rasa Silih Asah Menyatu
- account_circle Jelajah TvNews
- calendar_month Rabu, 9 Sep 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

KUNINGAN — Pagi menyapa Desa Subang dengan geliat yang berbeda. Di tengah hamparan kehidupan lembur, masyarakat Kecamatan Subang, Selajambe, dan Cilebak berkumpul dalam satu ruang kebersamaan.

Lapangan Sepak Bola Desa Subang, Selasa (8/9/2026), menjadi saksi rangkaian Bupati Saba Lembur, bagian dari peringatan Hari Jadi ke-528 Kuningan.
Mengusung tema “Ngamumule Budaya, Majukeun Lembur pikeun Kuningan Melesat”, kegiatan ini bukan sekadar menghadirkan pemerintah ke tengah masyarakat, tetapi juga membawa pesan bahwa pembangunan akan lebih bermakna ketika berangkat dari suara warga dan akar budaya.
Sejak pagi hingga malam, berbagai kegiatan mengalir. Mulai dari penyerapan aspirasi, pelayanan publik, program pemberdayaan, hingga suguhan seni budaya dan hiburan rakyat.
Warga dapat menikmati layanan kesehatan gratis, administrasi kependudukan, pembuatan KTP dan KK, perbaikan data DTKS, hingga Gerakan Pangan Murah. Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si., turut meninjau langsung pelayanan tersebut.
Namun ketika malam tiba, wajah lembur berubah menjadi panggung budaya.
Seni tari, angklung, kacapi suling, hingga tari kolosal Sanggar Seni Giwangkara menghidupkan suasana.
Gelak tawa pun pecah melalui bobodoran yang menghadirkan Si Cepot, Ohang, dan Ceu Popon. Bahkan Bupati Dian ikut larut dalam satu panggung bersama para pengisi acara.
Alunan musik Ega Noviantika semakin menyempurnakan malam yang penuh keakraban.

Di antara riuh tepuk tangan, hadir pula Ngawangkong, sebuah ruang dialog yang dikemas ringan melalui talkshow dan bobodoran. Pemerintah dan masyarakat duduk dalam suasana cair, membicarakan program pembangunan sekaligus menyampaikan suara dari pelosok lembur.
Program Gema Sadulur, Ngaji Diri, dan Bupati Heman ka Masyarakat turut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan, disertai aktivasi dan penyerahan sejumlah program kepada masyarakat serta penerima manfaat.
Bagi masyarakat, kehadiran ribuan warga juga menjadi berkah tersendiri. Para pelaku UMKM dan pedagang lokal ikut merasakan denyut keramaian, menjajakan makanan, jajanan, pakaian, hingga aksesori bernuansa Sunda.
Lembur pun bukan hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi menjadi ruang bergeraknya ekonomi rakyat.
Bupati Dian menegaskan, Bupati Saba Lembur bukan sekadar kegiatan seremonial. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi sarana silaturahmi sekaligus ruang bagi pemerintah untuk mendengar langsung kebutuhan masyarakat.
Salah satu aspirasi yang mengemuka adalah persoalan infrastruktur jalan. Menanggapi hal itu, pemerintah menyampaikan adanya pembahasan sejumlah program untuk wilayah Subang, Cilebak, dan Selajambe, termasuk dukungan terhadap pembangunan infrastruktur.
Di tengah pembangunan yang terus bergerak, budaya tetap ditempatkan sebagai akar.
Seni tradisional tidak hanya dipertontonkan, tetapi diwariskan. Sebab dari sebuah tarian, bunyi angklung, petikan kacapi, hingga tawa bobodoran, tersimpan identitas dan ingatan sebuah masyarakat.
“Bukan hanya sekadar tontonan, tapi juga tuntunan,” tegas Bupati Dian.
Malam akhirnya ditutup dengan nyanyian bersama “Kuningan Melesat”. Ribuan warga bernyanyi dalam satu irama, seolah menegaskan bahwa kemajuan tidak harus meninggalkan akar, dan pembangunan tidak boleh menjauh dari masyarakat.
Karena di tanah Sunda, silaturahmi adalah jalan. Budaya adalah akar. Dan lembur adalah tempat nilai-nilai itu terus tumbuh.
Rangkaian Bupati Saba Lembur selanjutnya dijadwalkan berlangsung di Desa Mandirancan, Kecamatan Mandirancan, Kamis, 10 September 2026.
- Penulis: Jelajah TvNews


