Dari Luka Seorang Ibu, Lahir Seruan: Stop Bullying! Open Casting di CSB Cirebon Dibanjiri Peserta
- account_circle Jelajah TvNews
- comment 0 komentar
- print Cetak

CIREBON — Ada luka yang tak selalu terlihat oleh mata. Ada tangis yang tersimpan lama di balik senyum seorang anak. Dan ada orang tua yang setiap hari harus menyaksikan buah hatinya berjuang memulihkan diri dari sebuah pengalaman yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!
Adegan Rara dan Ratu Di Open Casting
Kisah-kisah seperti itulah yang membuat Open Casting Stop Bullying sekaligus Kampanye Nasional Anti Perundungan di Yogya Junction CSB Cirebon, Sabtu, 29 Agustus 2026, terasa lebih dari sekadar sebuah kegiatan.
Ratusan peserta dari berbagai kalangan memadati lokasi. Anak-anak, remaja, ibu-ibu hingga orang tua datang membawa harapan, kreativitas, bahkan sebagian membawa kisah pribadi tentang luka akibat perundungan.
Di balik hiruk-pikuk open casting, terselip pesan kemanusiaan yang begitu kuat: anak-anak harus diselamatkan dari kekerasan dan intimidasi agar mereka tetap memiliki masa depan.
Selaku produser sekaligus penggagas ide cerita, Pangeran Heru Rusyamsi Arianatareja, S.Psi., M.H., Sultan Sepuh Cirebon, bersama sutradara Bebem Firmansyah, menegaskan bahwa kampanye tersebut lahir dari kepedulian terhadap generasi muda.
“Kami saat ini bagaimana menyelamatkan anak-anak generasi muda dari bentuk intimidasi dan perundungan, baik di sekolah maupun di lingkungan rumah. Mereka perlu diselamatkan dari bentuk kekerasan agar masa depan bangsa bisa terselamatkan.”
Kalimat itu bukan sekadar pesan kampanye. Sebab di tengah kegiatan, hadir pula suara seorang ibu bernama Lena, yang membawa kisah tentang anaknya yang pernah menjadi korban perundungan di sekolah.
Peristiwa itu meninggalkan jejak yang panjang. Luka masa lalu masih dirasakan hingga kini, dan sang ibu ingin menjadikan kesempatan mengikuti casting sebagai ruang untuk mencurahkan perasaan—bukan hanya sebagai seorang peserta, tetapi sebagai seorang ibu yang pernah melihat anaknya terluka.
Ia berharap kisah yang dialaminya tidak perlu dirasakan oleh ibu-ibu lainnya.
Di sanalah makna kampanye ini menemukan wajahnya.
Bullying bukan sekadar ejekan. Bukan sekadar candaan. Di balik satu kalimat yang dianggap ringan, bisa saja ada hati seorang anak yang hancur dan membutuhkan waktu panjang untuk kembali percaya diri.
Karena itu, Open Casting Stop Bullying tidak hanya menjadi ajang mencari talenta. Ia menjadi ruang untuk menyuarakan keberanian—keberanian bagi anak untuk berkata tidak terhadap perundungan, dan keberanian bagi orang tua untuk berdiri bersama anak-anaknya.
Kegiatan sehari tersebut juga diramaikan dengan Lomba Mewarnai Gambar, yang memberikan ruang bagi anak-anak untuk mengekspresikan kreativitas sekaligus memahami pesan tentang persahabatan, keberanian, dan penolakan terhadap segala bentuk perundungan.
Menurut Executive Producer film Aku Bukan Musuhmu Tapi Aku Sahabatmu, Sandy Tumiwa, perpaduan open casting dan lomba mewarnai menjadi medium yang dekat dengan dunia anak.
Melalui kreativitas, pesan anti-bullying diharapkan tidak berhenti sebagai slogan, tetapi tumbuh menjadi kesadaran sejak usia dini.
Gerakan ini juga mendapat dukungan dari sejumlah perusahaan dan institusi, di antaranya BSI Bank Syariah Indonesia, PLN Nusantara Power, Telkom Indonesia, dan Pertamina, yang turut bersinergi dalam mendukung pesan kepedulian terhadap generasi muda.
Hari itu, CSB Cirebon bukan hanya dipenuhi peserta casting.
Di sana berkumpul harapan.
Harapan seorang anak agar tidak lagi takut datang ke sekolah. Harapan seorang ibu agar anaknya kembali tersenyum. Harapan orang tua agar anak-anak tumbuh tanpa harus membawa luka masa kecil hingga dewasa.
Dan mungkin, dari sebuah panggung kecil open casting, akan lahir suara yang jauh lebih besar:
“Aku bukan musuhmu. Aku sahabatmu. Jangan sakiti aku. Mari kita hentikan bullying.”
Sebab menyelamatkan satu anak dari perundungan, sejatinya adalah menyelamatkan satu masa depan.
- Penulis: Jelajah TvNews


