Sipuh Asih Tepung Cai, Pesan Leluhur Menjaga Mata Air Di Milangkala Saung Kopi Hawu
- account_circle jelajahtv news
- calendar_month 1 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Oplus_16908288
KUNINGAN – Tradisi Sipuh Asih Tepung Cai menjadi salah satu rangkaian penuh makna dalam Milangkala Saung Kopi Hawu. Bukan sekadar seremoni budaya, tradisi ini menjadi ruang untuk mengingat kembali hubungan manusia dengan air, tanah, pangan, dan kehidupan.

Tradisi menempatkan padi di leuit
Kegiatan berlangsung khidmat namun tetap dalam suasana santai. Hadir dalam kegiatan tersebut unsur pemerintahan kelurahan, perwakilan masyarakat dari empat desa penyanggah, serta sejumlah undangan lainnya.
Prosesi diawali dengan memasukkan air ke dalam sebuah tempayan. Air tersebut berasal dari empat wilayah yang melambangkan arah mata angin—utara, selatan, barat dan timur. Air dari berbagai penjuru kemudian disatukan sebagai simbol persaudaraan, kebersamaan, dan harapan bahwa perbedaan wilayah tidak menjadi penghalang untuk menjaga sumber kehidupan.
Dalam filosofi masyarakat Sunda, air bukan sekadar benda yang mengalir. Air adalah lambang kehidupan yang harus dijaga dari hulu hingga hilir. Ketika air dipertemukan dalam satu tempayan, pesan yang dibawa menjadi lebih dalam: kehidupan akan tetap mengalir ketika manusia mampu menyatukan kepedulian.
Rangkaian tradisi kemudian dilanjutkan dengan doa dan tawasul. Suasana khidmat mengiringi harapan agar keberadaan sumber mata air, lingkungan, serta kehidupan masyarakat senantiasa mendapatkan keberkahan dan perlindungan.
Prosesi berikutnya adalah memasukkan padi ke dalam leuit atau lumbung padi. Padi menjadi simbol ketahanan pangan sekaligus pengingat bahwa kehidupan tidak hanya bergantung pada apa yang tersedia hari ini, tetapi juga pada bagaimana masyarakat menyiapkan kebutuhan generasi yang akan datang.
Dari air menuju padi, tradisi ini seolah menyampaikan satu pesan: menjaga sumber air berarti menjaga pangan, dan menjaga pangan berarti menjaga kehidupan.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan melalui Sawala Budaya dengan tema sumber mata air. Forum tersebut mempertemukan masyarakat dari sejumlah desa penyanggah, di antaranya Cigintung, Gunungkeling, Cirendang, dan Cipari, serta unsur masyarakat lainnya.
Pembahasan tidak berhenti pada nilai budaya, tetapi menyentuh persoalan nyata yang dihadapi masyarakat. Sejumlah titik mata air berada di wilayah yang secara kepemilikan merupakan tanah pribadi, sementara keberadaan sumber air tersebut memiliki fungsi bagi kepentingan masyarakat luas.
Kondisi tersebut melahirkan harapan agar terdapat solusi yang dapat mempertemukan kepentingan masyarakat, pemilik lahan, pelestarian lingkungan, serta peran pemerintah.
Di sinilah Milangkala Saung Kopi Hawu diharapkan tidak hanya menjadi ruang perayaan budaya, tetapi juga menjadi jembatan dialog. Budaya tidak berhenti pada ritual, melainkan dapat menjadi pintu masuk untuk membicarakan persoalan kehidupan secara bersama-sama.
Sipuh Asih Tepung Cai pada akhirnya mengajarkan bahwa air yang kecil sekalipun memiliki arti besar ketika dijaga bersama. Sebab ketika mata air kehilangan perlindungan, yang terancam bukan hanya alirannya, tetapi juga masa depan kehidupan di sekitarnya.
Melalui budaya, masyarakat kembali diingatkan bahwa alam bukan sekadar warisan untuk dinikmati, melainkan amanah yang harus dirawat dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
- Penulis: jelajahtv news




Saat ini belum ada komentar