Peduli Korban Bullying, Dua Tokoh Kuningan Turun Langsung
- account_circle jelajahtv news
- calendar_month 2 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

KUNINGAN – Kepedulian terhadap korban perundungan atau bullying kembali ditunjukkan oleh sejumlah tokoh di Kabupaten Kuningan. Sultan Sepuh Cirebon Pangeran Heru Rusyamsi Arianatareja, S.Psi., M.H., Ketua DPRD Kuningan, bersama Rdn. Sandy Tumiwa, S.H., dan rombongan mengunjungi korban perundungan pada Selasa (27/10/2026).

Kunjungan ke korban bulying
Kunjungan tersebut turut melibatkan jajaran kru film Aku Bukan Musuhmu, tapi Aku Sahabatmu. Kehadiran mereka menjadi bentuk dukungan moral sekaligus pengingat bahwa anak-anak membutuhkan lingkungan yang aman, penuh perhatian, dan bebas dari kekerasan.
Dalam kesempatan itu, Sultan Sepuh Cirebon Pangeran Heru Rusyamsi Arianatareja menyampaikan keprihatinannya terhadap berbagai persoalan yang mengancam generasi muda, mulai dari pengaruh negatif teknologi, kriminalitas, perundungan, hingga penyalahgunaan narkoba.
Menurutnya, perkembangan zaman harus diimbangi dengan perhatian dan pendampingan yang memadai dari keluarga, pihak sekolah, serta lingkungan masyarakat.
“Sekarang kita hampir banyak kehilangan anak-anak pewaris bangsa. Modernisasi zaman tentunya harus diimbangi dengan perhatian penuh, baik dari keluarga, pihak sekolah, maupun lingkungan masyarakat. Peduli terhadap anak-anak merupakan wujud penyelamatan mereka,” ujarnya.
Ketua DPRD Kuningan Soroti Perundungan Siswa SMP Japara
Di sisi lain, Ketua DPRD Kabupaten Kuningan, Nuzul Rachdy, S.E., turut menyampaikan keprihatinannya atas dugaan perundungan yang kembali menimpa seorang siswa SMP di Japara, berinisial atau bernama Nugraha, warga Karangmuncang, sebagaimana disampaikan dalam keterangan yang diterima redaksi.
Nuzul menyebutkan, peristiwa tersebut diduga telah terjadi sebanyak tiga hingga empat kali dalam satu bulan terakhir. Kondisi ini, menurutnya, perlu menjadi perhatian serius semua pihak agar tidak berkembang menjadi persoalan yang mengancam keselamatan anak.
“Kasus bullying bukan sekadar persoalan anak-anak. Ini sudah menjadi persoalan kita bersama, persoalan anak bangsa. Perundungan sudah berada pada taraf yang membahayakan keselamatan jiwa,” ungkap Nuzul kepada Jelajahtv.
Ia mengimbau para orang tua, guru, dan seluruh pihak yang berkepentingan agar meningkatkan pengawasan serta membangun komunikasi terbuka dengan anak-anak.
Nuzul juga mengingatkan pentingnya memperhatikan pergaulan anak, barang-barang yang dibawa ke sekolah, serta penggunaan telepon genggam. Pengawasan tersebut, menurutnya, perlu dilakukan secara bijak untuk mengantisipasi kemungkinan anak membawa benda berbahaya maupun terpapar konten digital yang mendorong perilaku kekerasan.
Menyelamatkan Anak, Menjaga Masa Depan Bangsa
Perundungan bukan persoalan sepele yang cukup diselesaikan dengan teguran sesaat. Tindakan tersebut dapat meninggalkan luka psikologis, merusak rasa percaya diri, dan mengganggu proses tumbuh kembang anak.
Karena itu, upaya pencegahan membutuhkan kerja bersama antara keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah. Anak-anak perlu dididik untuk menghormati perbedaan, menyelesaikan konflik tanpa kekerasan, serta berani melaporkan tindakan perundungan.
“Marilah kita jaga anak-anak kita dari segala bentuk kejahatan, terlebih di tengah perkembangan dunia digital saat ini,” pesan Nuzul.
Pada akhirnya, melindungi anak bukan hanya tanggung jawab orang tua atau sekolah. Ini adalah tanggung jawab bersama. Sebab, di balik setiap anak yang membutuhkan perlindungan, ada masa depan bangsa yang harus dijaga.
- Penulis: jelajahtv news

Saat ini belum ada komentar